Dalam pengambilan keputusan bisnis dan investasi, kesalahan paling mahal sering kali bukan terjadi pada tahap eksekusi, melainkan pada tahap penilaian awal. Feasibility study disusun untuk memastikan bahwa sebuah rencana usaha atau proyek memiliki dasar yang rasional, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan sebelum sumber daya dikomitmenkan.
Dalam praktik profesional, studi kelayakan berfungsi sebagai alat bantu keputusan strategis, bukan sekadar dokumen administratif.
Tujuan Feasibility Study
1. Menyaring Risiko Sejak Tahap Awal
Setiap proyek mengandung risiko pasar, teknis, keuangan, dan regulasi. Feasibility study bertujuan mengidentifikasi risiko utama tersebut sejak awal agar keputusan investasi bersifat terkontrol, bukan spekulatif.
2. Menguji Validitas Asumsi Bisnis
Banyak rencana bisnis dibangun di atas asumsi yang tidak diuji. Studi kelayakan memastikan bahwa asumsi terkait permintaan pasar, biaya, harga, dan pertumbuhan diuji menggunakan data dan pembanding industri yang relevan.
3. Menilai Kelayakan Finansial Secara Objektif
Feasibility study memberikan gambaran realistis mengenai kemampuan proyek menghasilkan arus kas yang berkelanjutan serta tingkat pengembalian yang sepadan dengan risiko yang diambil.
4. Menjadi Dasar Pengambilan Keputusan Stakeholder
Investor, lembaga keuangan, dan mitra strategis membutuhkan analisis yang terstruktur dan konsisten. Studi kelayakan berperan sebagai referensi utama dalam proses persetujuan dan pendanaan.
Ruang Lingkup Feasibility Study
Feasibility study yang komprehensif umumnya mencakup beberapa aspek utama berikut:
- Aspek pasar dan komersial
- Aspek teknis dan operasional
- Aspek manajemen dan sumber daya manusia
- Aspek hukum dan regulasi
- Aspek keuangan dan ekonomi
Pendekatan ini memastikan bahwa kelayakan proyek dinilai secara menyeluruh, bukan parsial.
Cara Pelaksanaan Feasibility Study
1. Penetapan Tujuan dan Batasan Studi
Tahap awal dimulai dengan penegasan tujuan proyek, skala investasi, horizon waktu, serta kriteria kelayakan. Kejelasan pada tahap ini menentukan relevansi seluruh analisis berikutnya.
2. Analisis Pasar dan Permintaan
Analisis difokuskan pada ukuran pasar, tren pertumbuhan, segmentasi pelanggan, dan lanskap persaingan. Output tahap ini adalah estimasi permintaan yang realistis dan dapat dipertanggungjawabkan.
3. Analisis Teknis dan Operasional
Tahap ini menilai kelayakan dari sisi lokasi, teknologi, kapasitas, proses operasional, serta ketersediaan infrastruktur pendukung. Tujuannya memastikan bahwa proyek dapat dijalankan secara efisien dan berkelanjutan.
4. Analisis Manajemen dan Organisasi
Kelayakan proyek juga ditentukan oleh kesiapan organisasi. Studi menilai struktur manajemen, kebutuhan SDM kunci, serta sistem tata kelola yang mendukung eksekusi proyek.
5. Analisis Hukum dan Regulasi
Analisis ini memastikan bahwa proyek sesuai dengan ketentuan perizinan dan regulasi yang berlaku, serta mengidentifikasi potensi hambatan hukum yang dapat memengaruhi kelangsungan usaha.
6. Analisis Keuangan dan Kelayakan Ekonomi
Tahap akhir mengintegrasikan seluruh hasil analisis ke dalam proyeksi keuangan, termasuk arus kas, kebutuhan investasi, serta indikator kelayakan seperti NPV, IRR, dan Payback Period. Analisis sensitivitas digunakan untuk menguji ketahanan proyek terhadap perubahan asumsi utama.
Feasibility study bukan sekadar formalitas sebelum proyek dijalankan. Studi kelayakan yang disusun secara disiplin dan berbasis analisis membantu pengambil keputusan memahami nilai, risiko, dan prasyarat keberhasilan proyek secara utuh.
Dengan pendekatan yang tepat, feasibility study menjadi alat strategis untuk memastikan bahwa pertumbuhan bisnis dibangun di atas dasar yang rasional dan berkelanjutan.
baca juga jasa sebar kuesioner

No responses yet