Studi kelayakan bisnis seharusnya menjadi fondasi utama dalam pengambilan keputusan investasi. Namun dalam praktiknya, banyak studi kelayakan gagal memberikan gambaran yang akurat dan dapat ditindaklanjuti. Kegagalan ini bukan semata karena keterbatasan data, melainkan karena pendekatan yang kurang disiplin, asumsi yang tidak diuji, dan fokus yang terlalu sempit pada proyeksi finansial.
Kesalahan dalam studi kelayakan tidak hanya meningkatkan risiko kegagalan proyek, tetapi juga dapat mengarah pada alokasi modal yang tidak efisien dan hilangnya peluang strategis. Oleh karena itu, memahami kesalahan umum dalam penyusunan studi kelayakan menjadi langkah awal untuk meningkatkan kualitas keputusan bisnis.
1. Terlalu Fokus pada Proyeksi Finansial
Salah satu kesalahan paling umum adalah menjadikan proyeksi keuangan sebagai satu-satunya dasar penilaian. Meskipun indikator seperti IRR, NPV, dan payback period penting, angka-angka tersebut sangat bergantung pada asumsi dasar yang sering kali tidak diuji secara memadai.
Tanpa analisis pasar, perilaku konsumen, dan dinamika kompetitif yang kuat, proyeksi finansial berisiko menjadi sekadar simulasi optimistis. Studi kelayakan yang efektif harus memandang keuangan sebagai hasil dari strategi dan eksekusi, bukan sebagai titik awal analisis.
2. Asumsi Pasar yang Tidak Realistis
Banyak studi kelayakan dibangun di atas asumsi permintaan yang terlalu optimistis, pertumbuhan pasar yang linier, atau penetrasi pasar yang tidak mempertimbangkan respon kompetitor. Kesalahan ini sering terjadi karena data yang digunakan bersifat umum, usang, atau tidak relevan dengan konteks lokal.
Pendekatan yang lebih disiplin menuntut validasi asumsi melalui riset pasar primer, segmentasi yang jelas, serta pemahaman mendalam terhadap kebutuhan dan daya beli target konsumen. Tanpa hal tersebut, studi kelayakan kehilangan daya prediktifnya.
3. Mengabaikan Kapabilitas Organisasi dan SDM
Studi kelayakan sering kali menilai “apakah proyek ini layak secara ekonomi”, tetapi gagal menjawab “apakah organisasi siap mengeksekusinya”. Faktor seperti kualitas SDM, struktur organisasi, budaya kerja, dan kemampuan manajerial kerap diabaikan.
Padahal, banyak proyek yang secara finansial menarik gagal karena keterbatasan eksekusi. Studi kelayakan yang komprehensif harus memasukkan evaluasi kapabilitas internal dan, jika diperlukan, mengidentifikasi kesenjangan yang perlu ditutup sebelum investasi dijalankan.
4. Analisis Risiko yang Dangkal
Kesalahan berikutnya adalah perlakuan terhadap risiko sebagai formalitas. Risiko sering hanya dicantumkan dalam daftar tanpa analisis probabilitas, dampak, dan strategi mitigasi yang jelas. Akibatnya, manajemen tidak memiliki gambaran utuh mengenai eksposur risiko yang sebenarnya.
Pendekatan yang lebih matang memerlukan analisis skenario dan sensitivitas untuk menguji ketahanan proyek terhadap perubahan asumsi utama, seperti penurunan permintaan, kenaikan biaya, atau keterlambatan implementasi.
5. Tidak Mengaitkan Studi Kelayakan dengan Strategi Jangka Panjang
Studi kelayakan yang berdiri sendiri, tanpa dikaitkan dengan strategi korporasi, berisiko menghasilkan keputusan yang secara finansial menarik namun strategis tidak relevan. Investasi semacam ini sering menyerap sumber daya tanpa memberikan kontribusi nyata terhadap posisi kompetitif perusahaan.
Studi kelayakan seharusnya menjawab bagaimana proyek mendukung visi jangka panjang, memperkuat portofolio bisnis, atau menciptakan keunggulan struktural di pasar.
Menuju Studi Kelayakan yang Lebih Berkualitas
Studi kelayakan bisnis bukan sekadar dokumen persyaratan, melainkan alat pengambilan keputusan strategis. Menghindari kesalahan umum—mulai dari asumsi yang tidak diuji hingga pengabaian faktor eksekusi—akan secara signifikan meningkatkan kualitas keputusan investasi.
Organisasi yang unggul menggunakan studi kelayakan sebagai sarana untuk menguji ketahanan strategi, bukan untuk membenarkan keputusan yang telah dibuat. Dengan pendekatan yang disiplin, berbasis data, dan terintegrasi dengan strategi jangka panjang, studi kelayakan dapat menjadi fondasi yang kuat bagi pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.

No responses yet