Penyusunan studi kelayakan bukanlah sekadar dokumen administratif, melainkan instrumen kuantitatif untuk memitigasi risiko kegagalan investasi. Secara teknis, proses ini mengintegrasikan lima parameter utama yang saling berkorelasi.
1. Proyeksi Pasar dan Estimasi Pendapatan
Substansi pertama adalah memvalidasi kapasitas pasar untuk menyerap produk/jasa.
- Analisis Supply-Demand: Menghitung selisih antara total kapasitas produksi industri yang ada dengan estimasi permintaan pasar di masa depan.
- Penentuan Market Share: Menetapkan target pangsa pasar realistis berdasarkan keunggulan kompetitif.
- Proyeksi Top-Line: Estimasi pendapatan kotor tahunan yang didasarkan pada harga satuan dikali volume penjualan yang diproyeksikan.
2. Spesifikasi Teknis dan Operasional (CAPEX & OPEX)
Aspek ini menentukan kebutuhan sumber daya fisik dan biaya yang menyertainya.
- Capital Expenditure (CAPEX): Perhitungan total investasi awal, mencakup akuisisi lahan, konstruksi fisik, pembelian mesin/teknologi, dan biaya perizinan.
- Operating Expenditure (OPEX): Perhitungan biaya rutin yang mencakup gaji SDM, pemeliharaan (maintenance), utilitas (listrik/air), dan bahan baku.
- Spesifikasi Teknologi: Pemilihan perangkat keras dan lunak yang paling efisien secara biaya dan waktu produksi.
3. Pemodelan Keuangan dan Parameter Kelayakan
Inti dari studi kelayakan adalah angka-angka hasil simulasi keuangan selama periode proyeksi (biasanya 5–10 tahun).
- Net Present Value (NPV): Menghitung nilai bersih investasi saat ini dengan mendiskon arus kas masa depan. Jika NPV > 0, proyek dianggap layak secara finansial.
- Internal Rate of Return (IRR): Tingkat pengembalian tahunan yang diharapkan. Proyek layak jika IRR lebih besar dari biaya modal (Cost of Capital atau suku bunga bank).
- Payback Period: Durasi waktu yang dibutuhkan agar akumulasi arus kas masuk dapat menutup nilai investasi awal (CAPEX).
- Debt Service Coverage Ratio (DSCR): Rasio kemampuan arus kas proyek untuk membayar cicilan hutang dan bunga bank.
4. Analisis Sensitivitas dan Mitigasi Risiko
Pengujian ketahanan proyek terhadap perubahan variabel luar yang tidak terduga.
- Skenario Variabel: Simulasi apa yang terjadi jika harga bahan baku naik 15% atau jika volume penjualan turun 20%.
- Break Even Point (BEP): Titik di mana pendapatan sama dengan biaya operasional; menentukan volume penjualan minimal agar tidak merugi.
5. Kepatuhan Hukum dan Standar ESG
Substansi terakhir adalah validasi terhadap batasan eksternal.
- Compliance Audit: Kesesuaian dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan regulasi sektoral.
- Environmental & Social Impact: Penilaian dampak lingkungan (AMDAL) dan standar Environmental, Social, and Governance (ESG) yang kini menjadi syarat utama untuk akses pendanaan perbankan dan investor global.
Hasil akhir dari penyusunan ini adalah rekomendasi biner: Layak atau Tidak Layak. Jasa profesional memastikan bahwa data yang digunakan bersifat empiris dan model finansial yang dibangun bebas dari bias optimisme, sehingga keputusan investasi didasarkan pada perhitungan risiko yang terukur.

No responses yet