Cara Menghitung Internal Rate of Return (IRR) dalam Studi Kelayakan: Pengertian, Rumus, dan Contoh Perhitungan Investasi

person Content Manager
calendar_today 20 June 2026
schedule 4 min read
visibility 19 views
Cara Menghitung Internal Rate of Return (IRR) dalam Studi Kelayakan: Pengertian, Rumus, dan Contoh Perhitungan Investasi


Pendahuluan

Dalam dunia investasi, investor tidak hanya ingin mengetahui kapan modal akan kembali atau berapa nilai tambah yang dihasilkan proyek. Investor juga ingin mengetahui satu hal yang sangat penting:

"Berapa tingkat keuntungan yang akan saya peroleh dari investasi ini?"

Pertanyaan tersebut dijawab melalui Internal Rate of Return atau IRR.

IRR merupakan salah satu indikator investasi yang paling sering digunakan dalam studi kelayakan karena mampu menunjukkan tingkat pengembalian investasi yang dihasilkan suatu proyek selama umur ekonomisnya.

Dalam praktiknya, hampir seluruh studi kelayakan profesional untuk hotel, rumah sakit, pergudangan, universitas, kawasan industri, pabrik, data center, hingga proyek energi selalu menggunakan IRR sebagai salah satu indikator utama.

Bagi investor, angka IRR sering menjadi indikator yang paling mudah dibandingkan karena dapat langsung dibandingkan dengan tingkat bunga bank, cost of capital, atau alternatif investasi lainnya.

Apa Itu Internal Rate of Return (IRR)?

Internal Rate of Return (IRR) adalah tingkat diskonto yang menyebabkan Net Present Value (NPV) suatu proyek sama dengan nol.

Secara sederhana, IRR dapat diartikan sebagai tingkat keuntungan tahunan yang dihasilkan oleh suatu investasi.

Jika sebuah proyek memiliki IRR sebesar 18%, maka secara teoritis proyek tersebut mampu menghasilkan tingkat pengembalian investasi sebesar 18% per tahun selama umur proyek.

Karena itu semakin tinggi IRR, umumnya semakin menarik suatu investasi.

Mengapa IRR Penting dalam Studi Kelayakan?

Mengukur Tingkat Keuntungan Investasi

IRR membantu investor mengetahui seberapa besar tingkat pengembalian yang dapat dihasilkan proyek.

Mempermudah Perbandingan Antar Proyek

Misalnya:

Proyek Hotel = IRR 15%

Proyek Pergudangan = IRR 22%

Proyek Rumah Sakit = IRR 17%

Investor dapat membandingkan alternatif investasi secara lebih mudah.

Digunakan oleh Bank dan Investor

IRR merupakan salah satu indikator yang paling sering diminta oleh:

  • Perbankan
  • Venture Capital
  • Private Equity
  • Investor Properti
  • Investor Infrastruktur

Hubungan IRR dan Cost of Capital

Dalam analisis investasi terdapat istilah Cost of Capital atau biaya modal.

Misalnya:

Biaya modal perusahaan = 12%

Maka:

Jika IRR > 12%

Proyek layak.

Jika IRR = 12%

Proyek berada pada titik impas investasi.

Jika IRR < 12%

Proyek tidak layak.

Karena keuntungan proyek lebih rendah dibanding biaya modal yang digunakan.

Interpretasi Hasil IRR

Secara umum:

IRR di bawah 10%

Biasanya kurang menarik.

IRR 10% - 15%

Masih layak untuk sektor tertentu.

IRR 15% - 20%

Menarik.

IRR di atas 20%

Sangat menarik.

Namun standar setiap industri berbeda.

Contoh IRR pada Studi Kelayakan Hotel

Misalkan:

Investasi Hotel = Rp50 miliar

Umur proyek = 20 tahun

Hasil perhitungan menunjukkan:

IRR = 16,8%

Jika biaya modal investor sebesar 12%, maka:

16,8% > 12%

Artinya proyek hotel layak untuk dikembangkan.

Contoh IRR pada Studi Kelayakan Pergudangan

Investasi = Rp100 miliar

IRR = 23%

Cost of Capital = 13%

Karena:

23% > 13%

Maka proyek sangat layak.

Selain menghasilkan keuntungan tinggi, proyek juga memiliki margin keamanan yang besar.

Contoh IRR pada Studi Kelayakan Pabrik

Investasi = Rp150 miliar

IRR = 14%

Cost of Capital = 11%

Karena:

14% > 11%

Maka proyek masih layak.

Namun investor perlu memperhatikan risiko operasional dan pasar sebelum mengambil keputusan.

Faktor yang Mempengaruhi IRR

Pendapatan

Semakin tinggi penjualan maka IRR akan meningkat.

Biaya Operasional

Semakin efisien biaya maka IRR akan semakin baik.

Investasi Awal

Semakin besar investasi awal, semakin sulit mencapai IRR yang tinggi.

Tingkat Utilisasi

Pada proyek hotel, rumah sakit, pergudangan, dan pabrik, tingkat utilisasi sangat memengaruhi IRR.

Kelebihan IRR

  • Mudah dipahami investor.
  • Mengukur tingkat keuntungan investasi.
  • Cocok untuk membandingkan beberapa proyek.
  • Menjadi standar dalam studi kelayakan.

Kelemahan IRR

  • Tidak menunjukkan nilai tambah ekonomi secara langsung.
  • Bisa menyesatkan pada proyek dengan pola cash flow yang tidak normal.
  • Harus digunakan bersama NPV.

Hubungan IRR dengan NPV dan Payback Period

Ketiga indikator ini saling melengkapi.

Payback Period

Menjawab:

"Kapan modal kembali?"

NPV

Menjawab:

"Berapa nilai tambah yang dihasilkan?"

IRR

Menjawab:

"Berapa tingkat keuntungan investasinya?"

Karena itu studi kelayakan profesional hampir selalu menampilkan ketiga indikator tersebut secara bersamaan.

Kesalahan yang Sering Terjadi dalam Analisis IRR

  • Menggunakan asumsi penjualan terlalu optimis.
  • Tidak memperhitungkan inflasi.
  • Tidak memperhitungkan modal kerja.
  • Tidak melakukan sensitivity analysis.
  • Menggunakan biaya modal yang tidak realistis.

Kesalahan tersebut dapat menyebabkan hasil analisis menjadi bias dan tidak mencerminkan kondisi sebenarnya.

Mengapa Investor Menyukai IRR?

Karena IRR memberikan gambaran yang sederhana namun kuat mengenai tingkat keuntungan investasi.

Investor dapat langsung membandingkan IRR dengan:

  • Bunga deposito.
  • Obligasi.
  • Saham.
  • Properti.
  • Investasi lainnya.

Semakin besar selisih antara IRR dan biaya modal, semakin menarik proyek tersebut.

Grapadi International: Jasa Penyusunan Studi Kelayakan dan Financial Modelling

Grapadi International menyediakan layanan analisis investasi profesional yang mencakup:

  • Internal Rate of Return (IRR)
  • Net Present Value (NPV)
  • Payback Period (PP)
  • Break Even Point (BEP)
  • Sensitivity Analysis
  • Financial Projection

untuk berbagai sektor seperti hotel, rumah sakit, universitas, pergudangan, kawasan industri, manufaktur, energi, dan infrastruktur.


Internal Rate of Return (IRR) merupakan salah satu indikator terpenting dalam studi kelayakan karena menunjukkan tingkat pengembalian investasi yang dapat dihasilkan suatu proyek. Dengan memahami IRR, investor dapat menilai apakah suatu investasi layak, membandingkan berbagai alternatif proyek, serta menentukan strategi investasi yang paling menguntungkan.

Karena itulah IRR menjadi salah satu indikator utama yang selalu digunakan bersama NPV dan Payback Period dalam penyusunan studi kelayakan profesional.


Share this article:

C
Written by

Content Manager

email content@grapadi.com

Related Articles

Subscribe to Our Newsletter

Dapatkan insights dan research terbaru langsung ke inbox Anda.