Jasa bisnis plan tidak hanya bertugas menghitung berapa besar revenue dan profit yang dapat dihasilkan sebuah bisnis. Analisis yang lebih fundamental adalah menentukan apakah return yang dihasilkan cukup untuk mengompensasi modal dan risiko yang ditanggung investor. Di sinilah cost of capital menjadi salah satu konsep penting dalam investment analysis.
Cost of capital merepresentasikan tingkat return minimum yang diharapkan oleh penyedia modal sebagai kompensasi atas penggunaan dana dan risiko investasi. Dengan kata lain, bisnis tidak cukup hanya menghasilkan profit; return yang dihasilkan harus dibandingkan dengan biaya modal yang digunakan untuk menciptakan profit tersebut.
Misalnya sebuah proyek menghasilkan ROIC sebesar 10%. Secara nominal bisnis memang menghasilkan return. Namun apabila cost of capital mencapai 14%, proyek tersebut belum menciptakan economic value karena return yang diperoleh masih berada di bawah required return.
Karena itu, jasa pembuatan bisnis plan perlu menghubungkan investment requirement, financing structure, risk profile, expected return, NPV, IRR, dan ROIC untuk menilai apakah suatu proyek benar-benar layak secara ekonomi.
Framework utamanya:
Capital Requirement → Cost of Capital → Required Return → Project Cash Flow → ROIC/IRR → NPV → Economic Value Creation
Apa Itu Cost of Capital?
Cost of capital adalah tingkat return minimum yang harus dihasilkan oleh investasi agar modal yang digunakan dapat dianggap memberikan kompensasi yang memadai kepada investor atau penyedia dana.
Secara sederhana:
Cost of Capital = Required Return atas Modal
Jika sebuah bisnis menggunakan modal Rp10 miliar dan investor mengharapkan return minimal 12%, maka bisnis harus menghasilkan return ekonomi yang memadai di atas atau setidaknya memenuhi tingkat tersebut.
Cost of capital bukan sekadar biaya bunga pinjaman. Untuk perusahaan yang menggunakan kombinasi utang dan ekuitas, terdapat beberapa sumber modal yang masing-masing memiliki required return berbeda.
Mengapa Cost of Capital Penting dalam Business Plan?
Jasa bisnis plan perlu memasukkan cost of capital karena angka profit absolut sering kali menyesatkan jika tidak dibandingkan dengan modal yang digunakan.
Contoh:
Bisnis A menghasilkan profit Rp1 miliar dengan modal Rp5 miliar.
Bisnis B menghasilkan profit Rp2 miliar dengan modal Rp20 miliar.
Secara nominal, profit B lebih besar. Namun return terhadap modal:
Bisnis A = 20%
Bisnis B = 10%
Jika required return adalah 12%, bisnis A menciptakan return yang lebih menarik, sedangkan bisnis B mungkin belum menghasilkan economic value yang memadai.
Artinya:
Profit ≠ Economic Value Creation
Cost of Debt
Cost of debt adalah biaya yang harus ditanggung perusahaan atas penggunaan utang.
Misalnya perusahaan memperoleh pinjaman Rp10 miliar dengan bunga 10% per tahun.
Annual interest:
Rp10 miliar × 10% = Rp1 miliar
Namun dalam analisis corporate finance, cost of debt setelah pajak dapat digunakan karena interest expense pada kondisi tertentu memberikan tax shield.
Formula sederhana:
After-Tax Cost of Debt = Cost of Debt × (1 − Tax Rate)
Jika bunga 10% dan tax rate 22%:
10% × (1 − 22%) = 7,8%
Perhitungan aktual bergantung pada struktur pajak dan deductibility yang berlaku.
Cost of Equity
Jasa pembuatan bisnis plan juga harus memperhitungkan cost of equity.
Cost of equity merupakan tingkat return yang diharapkan pemegang saham sebagai kompensasi atas risiko modal yang mereka investasikan.
Berbeda dengan utang, equity tidak memiliki bunga tetap. Namun equity memiliki opportunity cost.
Investor dapat memilih mengalokasikan dana ke aset atau bisnis lain dengan tingkat risiko tertentu. Karena itu modal equity memiliki required return.
CAPM
Salah satu pendekatan yang sering digunakan untuk mengestimasi cost of equity adalah Capital Asset Pricing Model atau CAPM.
Formula:
Ke = Rf + β × (Rm − Rf)
Keterangan:
- Ke = Cost of Equity
- Rf = Risk-Free Rate
- β = Beta
- Rm − Rf = Equity Risk Premium
Misalnya:
Risk-free rate = 6%.
Beta = 1,2.
Equity risk premium = 7%.
Maka:
Ke = 6% + (1,2 × 7%) = 14,4%
Angka tersebut menggambarkan required return yang secara teoritis diperlukan investor berdasarkan risiko sistematis.
Risk-Free Rate
Risk-free rate menjadi salah satu komponen penting dalam cost of equity.
Secara konsep, investor membutuhkan return lebih tinggi daripada aset yang dianggap memiliki risiko sangat rendah ketika mereka mengambil risiko bisnis.
Semakin tinggi baseline interest rate dalam perekonomian, cost of capital dapat ikut meningkat.
Hal ini kemudian memengaruhi:
- Investment decision
- Valuation
- Financing cost
- NPV
- Project attractiveness
Equity Risk Premium
Equity risk premium menunjukkan tambahan return yang diharapkan investor dibandingkan risk-free investment sebagai kompensasi atas risiko equity.
Semakin tinggi perceived risk suatu pasar atau bisnis, semakin besar required risk premium yang dapat digunakan dalam valuation.
Karena itu jasa bisnis plan perlu mempertimbangkan risk profile ketika menentukan required return.
Beta
Beta menggambarkan sensitivitas return suatu aset terhadap pergerakan pasar.
Beta:
- <1 → secara relatif lebih rendah sensitivitasnya terhadap pasar.
- =1 → bergerak kurang lebih sejalan dengan pasar.
1 → secara relatif lebih sensitif terhadap perubahan pasar.
Untuk perusahaan private, beta sering kali perlu diestimasi menggunakan comparable companies dan kemudian disesuaikan dengan struktur modal.
Weighted Average Cost of Capital
Jika perusahaan menggunakan kombinasi debt dan equity, cost of capital dapat dihitung menggunakan Weighted Average Cost of Capital (WACC).
Formula sederhana:
WACC = (E/V × Ke) + (D/V × Kd × (1−T))
Keterangan:
- E = Equity
- D = Debt
- V = Total Capital
- Ke = Cost of Equity
- Kd = Cost of Debt
- T = Tax Rate
WACC menjadi benchmark penting untuk mengevaluasi apakah proyek menghasilkan return yang memadai.
Contoh Perhitungan WACC
Misalnya:
Equity = Rp6 miliar.
Debt = Rp4 miliar.
Total capital = Rp10 miliar.
Cost of equity = 15%.
Cost of debt = 9%.
Tax rate = 22%.
Maka:
WACC = (60% × 15%) + (40% × 9% × 78%)
WACC = 9% + 2,808% = 11,808%
Secara sederhana, required return perusahaan berada di sekitar 11,8%.
Interpretasi WACC
Jika sebuah proyek memiliki expected ROIC sebesar 18% dan WACC 11,8%, terdapat spread positif:
18% − 11,8% = 6,2%
Ini menunjukkan potensi economic value creation.
Sebaliknya jika ROIC hanya 8%:
8% − 11,8% = −3,8%
Maka return belum cukup untuk mengompensasi cost of capital.
ROIC vs WACC
Jasa bisnis plan dapat menggunakan hubungan berikut sebagai salah satu indikator utama:
ROIC > WACC → Potensi Value Creation
ROIC = WACC → Economic Break-Even
ROIC < WACC → Potential Value Destruction
Konsep ini sangat penting karena perusahaan dapat mengalami revenue growth dan profit growth sekaligus tetapi tetap menghancurkan economic value jika pertumbuhan tersebut membutuhkan modal dengan return yang terlalu rendah.
Economic Value Added
Salah satu pendekatan untuk melihat economic value creation adalah Economic Value Added atau EVA.
Formula sederhananya:
EVA = NOPAT − (Invested Capital × WACC)
Misalnya:
NOPAT = Rp2 miliar.
Invested capital = Rp10 miliar.
WACC = 12%.
Capital charge:
Rp10 miliar × 12% = Rp1,2 miliar
EVA:
Rp2 miliar − Rp1,2 miliar = Rp800 juta
Artinya perusahaan menghasilkan economic profit sebesar Rp800 juta setelah memperhitungkan capital charge.
Mengapa Profit Tidak Sama dengan Economic Profit?
Misalnya perusahaan menghasilkan net profit Rp1 miliar.
Sekilas angka tersebut terlihat positif.
Tetapi jika perusahaan menggunakan modal Rp20 miliar dengan required return 10%, economic capital charge mencapai:
Rp20 miliar × 10% = Rp2 miliar
Jika economic profit hanya Rp1 miliar, maka perusahaan belum menghasilkan return yang cukup untuk menutup opportunity cost modal.
Inilah alasan mengapa jasa pembuatan bisnis plan perlu menggunakan pendekatan return on capital, bukan hanya net profit.
Opportunity Cost of Capital
Modal selalu memiliki alternatif penggunaan.
Jika investor memiliki Rp10 miliar, dana tersebut dapat digunakan untuk:
- Investasi bisnis A
- Investasi bisnis B
- Obligasi
- Saham
- Proyek lainnya
Karena itu penggunaan modal memiliki opportunity cost.
Cost of capital merepresentasikan minimum economic return yang diperlukan agar suatu keputusan investasi masuk akal dibandingkan alternatif yang tersedia.
Cost of Capital dan Investment Decision
Sebelum investasi dilakukan, business plan harus menjawab:
- Berapa modal yang dibutuhkan?
- Dari mana modal diperoleh?
- Berapa cost of capital?
- Berapa expected cash flow?
- Berapa expected return?
- Apakah return melebihi cost of capital?
- Apakah downside scenario masih acceptable?
Dengan framework ini, keputusan investasi menjadi lebih objektif.
NPV dan Cost of Capital
Cost of capital digunakan sebagai discount rate dalam banyak analisis NPV.
Formula konseptual:
NPV = Σ [FCFₜ ÷ (1+WACC)ᵗ] − Initial Investment
Semakin tinggi WACC, semakin rendah present value future cash flow.
Karena itu kenaikan cost of capital dapat menyebabkan:
WACC ↑ → Present Value ↓ → NPV ↓
Proyek yang sebelumnya layak dapat menjadi tidak menarik ketika financing environment berubah.
Contoh NPV Sederhana
Misalnya investasi awal Rp5 miliar dan menghasilkan cash flow Rp2 miliar per tahun selama tiga tahun.
Jika discount rate 10%, present value future cash flow akan dihitung menggunakan discount rate tersebut.
Jika discount rate meningkat menjadi 15%, present value akan turun.
Artinya project valuation sangat sensitif terhadap required return.
IRR vs Cost of Capital
IRR menunjukkan discount rate yang membuat NPV sama dengan nol.
Keputusan sederhana:
IRR > WACC → Project potentially attractive
IRR < WACC → Project potentially unattractive
Namun IRR tidak boleh digunakan sendirian. NPV tetap penting karena menunjukkan absolute value creation.
Payback vs Cost of Capital
Payback period hanya menunjukkan berapa lama modal kembali.
Misalnya dua proyek:
Project A → Payback 3 tahun.
Project B → Payback 4 tahun.
Project B belum tentu lebih buruk karena bisa memiliki cash flow setelah tahun keempat yang jauh lebih besar.
Karena itu payback perlu dikombinasikan dengan:
- NPV
- IRR
- ROIC
- WACC
- Scenario analysis
Cost of Capital dan Capital Structure
Jasa bisnis plan juga perlu menganalisis bagaimana kombinasi debt dan equity memengaruhi cost of capital.
Debt relatif lebih murah dalam banyak kondisi karena memiliki prioritas pembayaran dan dapat memberikan tax shield.
Namun debt meningkatkan:
- Fixed financial obligations
- Interest expense
- Default risk
- Refinancing risk
Karena itu perusahaan tidak bisa sekadar menambah utang untuk menurunkan WACC.
Optimal Capital Structure
Tujuan capital structure bukan mendapatkan debt sebanyak mungkin atau equity sebanyak mungkin.
Tujuannya adalah menemukan struktur modal yang menghasilkan kombinasi:
Cost of Capital + Financial Risk + Flexibility
yang paling sesuai dengan profil bisnis.
Bisnis dengan cash flow stabil mungkin memiliki debt capacity lebih besar dibandingkan bisnis dengan revenue yang sangat volatile.
Financial Leverage
Debt dapat meningkatkan return kepada equity holder ketika bisnis menghasilkan return di atas cost of debt.
Namun leverage juga memperbesar downside.
Misalnya operating profit turun 30%, interest expense tetap harus dibayar.
Karena itu financial leverage harus diuji melalui downside scenario.
Cost of Capital dan Business Risk
Cost of capital tidak hanya dipengaruhi oleh struktur financing.
Risiko bisnis juga berperan.
Business dengan:
- Revenue volatility tinggi
- Customer concentration tinggi
- Margin rendah
- Regulatory uncertainty
- Commodity exposure
dapat memiliki required return yang lebih tinggi.
Semakin tinggi perceived risk, semakin tinggi hurdle rate yang seharusnya digunakan.
Cost of Capital dan Industry
Setiap industri memiliki risk profile berbeda.
Bisnis dengan recurring revenue dan predictable cash flow dapat memiliki risk profile berbeda dibandingkan bisnis yang sangat cyclical.
Karena itu benchmark cost of capital harus mempertimbangkan:
- Industry
- Business model
- Geography
- Capital structure
- Growth profile
Cost of Capital untuk Perusahaan Private
Jasa pembuatan bisnis plan untuk perusahaan private menghadapi tantangan karena tidak tersedia market price atau beta saham secara langsung.
Pendekatan yang dapat digunakan antara lain:
- Comparable companies
- Industry risk premium
- Adjusted beta
- Size premium
- Country risk premium
- Company-specific risk
Tujuannya adalah menghasilkan required return yang masuk akal berdasarkan risiko aktual bisnis.
Country Risk
Untuk bisnis yang beroperasi di emerging market, country risk dapat menjadi komponen tambahan dalam required return.
Faktor yang dapat dipertimbangkan:
- Political risk
- Currency risk
- Regulatory risk
- Macroeconomic volatility
- Interest rate environment
Namun penyesuaian harus dilakukan secara hati-hati agar tidak terjadi double counting risk.
Size Premium
Perusahaan kecil dapat menghadapi risiko yang berbeda dibandingkan perusahaan besar, seperti:
- Customer concentration
- Limited financing access
- Key-person dependency
- Smaller operating buffer
- Lower diversification
Karena itu valuation untuk perusahaan kecil terkadang membutuhkan penyesuaian risk premium.
Growth dan Cost of Capital
Pertumbuhan tinggi tidak otomatis menciptakan value.
Pertumbuhan hanya menciptakan value jika:
Incremental ROIC > WACC
Misalnya perusahaan meningkatkan revenue 30%, tetapi membutuhkan capital besar sehingga incremental ROIC hanya 8%, sementara WACC 12%.
Pertumbuhan tersebut secara ekonomi dapat menghancurkan value.
Sebaliknya, pertumbuhan 15% dengan incremental ROIC 20% dapat jauh lebih menarik.
Growth Efficiency
Jasa bisnis plan perlu melihat kualitas pertumbuhan melalui:
Revenue Growth + Incremental Capital + Incremental ROIC
Pertanyaan utamanya bukan hanya:
“Seberapa cepat revenue tumbuh?”
Tetapi:
“Berapa banyak modal tambahan yang diperlukan untuk menghasilkan pertumbuhan tersebut?”
Capital Intensity
Capital-intensive business membutuhkan investasi besar untuk menghasilkan revenue.
Contohnya:
- Manufacturing
- Infrastructure
- Transportation
- Hospitality
Semakin tinggi capital intensity, semakin penting analisis cost of capital karena jumlah modal yang harus dikompensasi semakin besar.
Asset-Light Business
Bisnis asset-light mungkin memiliki capital requirement lebih rendah.
Namun tetap tidak berarti otomatis memiliki economic return tinggi.
Misalnya customer acquisition membutuhkan marketing spend besar dan working capital tetap tinggi.
Karena itu seluruh invested capital harus diperhitungkan.
Cost of Capital dan Pricing
Cost of capital juga dapat menjadi pertimbangan dalam strategic pricing.
Jika sebuah produk membutuhkan modal besar untuk inventory, machinery, atau receivables, pricing harus menghasilkan contribution yang cukup untuk memberikan return terhadap capital.
Harga yang hanya menutup operating cost belum tentu menghasilkan economic return yang memadai.
Cost of Capital dan Product Portfolio
Perusahaan dapat mengevaluasi setiap product line berdasarkan:
- Revenue
- Margin
- Invested capital
- ROIC
- Risk
Produk dengan revenue tinggi tetapi capital requirement sangat besar belum tentu menciptakan value paling tinggi.
Sebaliknya, produk dengan revenue lebih kecil dapat memiliki ROIC jauh lebih tinggi.
Capital Allocation
Jasa bisnis plan dapat menggunakan cost of capital sebagai dasar capital allocation.
Perusahaan memiliki pilihan:
- Membuka cabang
- Menambah capacity
- Mengembangkan produk
- Mengakuisisi perusahaan
- Membeli teknologi
- Membayar utang
- Membagikan dividen
Capital sebaiknya diarahkan ke opportunity yang memiliki risk-adjusted return paling menarik.
Hurdle Rate
Hurdle rate merupakan tingkat return minimum yang digunakan untuk menyaring investment opportunity.
Jika project expected return di bawah hurdle rate, proyek perlu dipertanyakan.
Namun hurdle rate sebaiknya tidak digunakan secara mekanis. Risiko proyek harus dianalisis secara spesifik.
Scenario Analysis
Financial model sebaiknya menguji cost of capital dalam berbagai kondisi.
Contoh:
Base Case: WACC 12%.
Upside: WACC 10%.
Downside: WACC 15%.
Kemudian perusahaan melihat dampaknya terhadap:
- NPV
- IRR
- Valuation
- Economic profit
Jika NPV berubah dari positif menjadi negatif hanya karena sedikit perubahan discount rate, project memiliki sensitivity yang tinggi terhadap financing assumptions.
Sensitivity terhadap WACC
Misalnya suatu proyek memiliki NPV:
WACC 10% → Rp2,0 miliar
WACC 12% → Rp1,2 miliar
WACC 15% → Rp200 juta
WACC 17% → −Rp500 juta
Artinya project memiliki economic break-even discount rate di sekitar rentang tersebut.
Informasi ini penting untuk memahami margin of safety investasi.
Cost of Capital dan Inflation
Inflation dapat meningkatkan:
- Cost of debt
- Operating cost
- Working capital requirement
- Required return
Jika inflation meningkat dan central bank merespons dengan menaikkan interest rate, financing environment dapat menjadi lebih mahal.
Business plan harus menguji dampaknya terhadap NPV dan project feasibility.
Cost of Capital dan Interest Rate
Kenaikan interest rate secara langsung meningkatkan cost of debt bagi perusahaan dengan floating-rate debt atau refinancing requirement.
Jika:
Debt = Rp20 miliar.
Interest rate naik 2%.
Tambahan annual interest:
Rp20 miliar × 2% = Rp400 juta
Dampaknya terhadap cash flow dan net profit perlu dimasukkan dalam sensitivity analysis.
Cost of Capital dan Economic Moat
Bisnis dengan competitive advantage yang kuat dapat memiliki kemampuan menghasilkan ROIC tinggi secara konsisten.
Contohnya:
- Strong customer retention
- Switching cost
- Network effect
- Cost advantage
- Brand differentiation
Jika competitive advantage mampu mempertahankan ROIC di atas WACC dalam jangka panjang, bisnis berpotensi menciptakan economic value secara berkelanjutan.
Sustainable Value Creation
Jasa pembuatan bisnis plan perlu membedakan antara value creation sementara dan sustainable value creation.
Value creation yang sustainable membutuhkan:
ROIC > WACC
secara konsisten, bukan hanya satu tahun.
Jika perusahaan hanya mampu menghasilkan ROIC di atas WACC selama periode tertentu lalu kembali turun, competitive advantage mungkin belum cukup kuat.
Cost of Capital dan Expansion
Ketika perusahaan melakukan ekspansi, hurdle rate sebaiknya tidak selalu sama.
Project dengan risiko berbeda dapat membutuhkan required return berbeda.
Misalnya:
Core business → WACC 12%.
New market → 15%.
New technology → 18%.
Hal ini membantu menghindari keputusan investasi yang terlalu agresif.
Project-Specific Risk
Tidak semua proyek memiliki risiko yang sama dengan bisnis existing.
Misalnya perusahaan memiliki bisnis retail yang stabil tetapi ingin masuk ke bisnis teknologi baru.
Menggunakan WACC perusahaan secara langsung mungkin membuat project terlihat terlalu murah dari sisi required return.
Risk profile project harus dianalisis secara terpisah.
Cost of Capital dan M&A
Dalam acquisition, cost of capital dapat digunakan untuk mengevaluasi:
- Purchase price
- Expected synergy
- Future cash flow
- Integration cost
- Acquisition financing
Jika acquisition menghasilkan return di bawah cost of capital, transaksi dapat menghancurkan shareholder value meskipun revenue perusahaan gabungan meningkat.
Kesalahan Umum dalam Cost of Capital Analysis
Beberapa kesalahan yang sering terjadi:
- Menganggap cost of capital sama dengan bunga bank.
- Tidak menghitung cost of equity.
- Menggunakan WACC tanpa memahami risk profile.
- Menggunakan discount rate terlalu rendah untuk membuat NPV terlihat menarik.
- Tidak menguji sensitivity terhadap WACC.
- Menganggap revenue growth otomatis menciptakan value.
- Tidak membandingkan ROIC dengan WACC.
- Mengabaikan capital intensity.
- Menggunakan company-wide WACC untuk semua proyek.
- Mengabaikan perubahan interest rate dan financing environment.
FAQ Cost of Capital dalam Business Plan
Apa itu cost of capital?
Cost of capital adalah tingkat return minimum yang diharapkan penyedia modal sebagai kompensasi atas penggunaan dana dan risiko investasi.
Apa perbedaan cost of capital dan cost of debt?
Cost of debt merupakan biaya penggunaan utang, sedangkan cost of capital secara lebih luas mencakup biaya seluruh sumber modal, termasuk debt dan equity.
Apa itu WACC?
WACC atau Weighted Average Cost of Capital adalah rata-rata tertimbang biaya debt dan equity berdasarkan proporsi masing-masing dalam struktur modal perusahaan.
Mengapa WACC penting dalam business plan?
WACC dapat digunakan sebagai benchmark required return dan discount rate untuk menilai apakah future cash flow suatu proyek cukup untuk mengompensasi modal yang digunakan.
Apa hubungan ROIC dan WACC?
Jika ROIC > WACC, bisnis atau proyek berpotensi menciptakan economic value. Jika ROIC < WACC, return yang dihasilkan belum cukup untuk mengompensasi biaya modal.
Apakah profit tinggi berarti bisnis menciptakan economic value?
Tidak. Profit harus dibandingkan dengan jumlah modal yang digunakan dan required return atas modal tersebut. Bisnis dapat profitable tetapi tetap menghancurkan value jika return terhadap modal terlalu rendah.
Apa hubungan cost of capital dengan NPV?
Cost of capital digunakan sebagai discount rate dalam banyak model NPV. Semakin tinggi discount rate, semakin rendah present value future cash flow dan semakin rendah NPV.
Mengapa cost of capital penting untuk ekspansi?
Ekspansi membutuhkan tambahan modal. Cost of capital membantu menentukan apakah return dari tambahan investasi cukup untuk mengompensasi modal dan risiko yang ditanggung.
Apa manfaat jasa pembuatan bisnis plan dalam analisis cost of capital?
Jasa pembuatan bisnis plan membantu mengintegrasikan capital requirement, financing structure, cost of debt, cost of equity, WACC, ROIC, NPV, IRR, scenario analysis, dan risk assessment untuk menghasilkan dasar keputusan investasi yang lebih objektif.
Jasa bisnis plan yang menggunakan pendekatan ekonomi tidak boleh berhenti pada pertanyaan mengenai seberapa besar profit yang dapat dihasilkan sebuah bisnis. Analisis harus dilanjutkan dengan pertanyaan yang lebih fundamental: apakah return tersebut cukup untuk mengompensasi modal dan risiko yang digunakan untuk menghasilkan profit tersebut?
Cost of capital memberikan benchmark untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Framework utamanya:
Capital Requirement → Financing Structure → Cost of Capital → Required Return → Cash Flow → ROIC/IRR → NPV → Economic Value Creation
Konsep paling penting yang perlu diperhatikan adalah:
ROIC > WACC = Potensi Economic Value Creation
ROIC = WACC = Economic Break-Even
ROIC < WACC = Potensi Economic Value Destruction
Karena itu, jasa pembuatan bisnis plan perlu memasukkan cost of capital dalam financial feasibility, investment analysis, expansion planning, valuation, dan capital allocation.
Bisnis yang revenue-nya tumbuh cepat belum tentu menciptakan value. Pertumbuhan baru memiliki kualitas ekonomi apabila tambahan modal yang digunakan mampu menghasilkan return yang lebih tinggi daripada cost of capital.
Pada akhirnya, pertanyaan strategisnya bukan sekadar “berapa besar keuntungan yang bisa diperoleh?”, tetapi “berapa besar modal yang dibutuhkan, berapa required return atas modal tersebut, dan apakah bisnis mampu menghasilkan return yang secara konsisten melebihi biaya modal?”