Jasa bisnis plan yang berkualitas tidak dapat mengabaikan market analysis. Sebuah bisnis pada akhirnya hanya dapat menghasilkan revenue jika terdapat pasar yang memiliki kebutuhan, kemampuan membeli, dan willingness to pay terhadap produk atau jasa yang ditawarkan.
Karena itu, market analysis bukan sekadar bagian formal dalam dokumen business plan yang berisi angka market size, jumlah penduduk, atau pertumbuhan industri. Market analysis seharusnya menjadi proses untuk menjawab pertanyaan ekonomi yang jauh lebih fundamental:
Seberapa besar peluang pasar yang benar-benar dapat dikonversi menjadi revenue oleh perusahaan?
Pertanyaan tersebut penting karena market size tidak sama dengan revenue potential.
Sebuah industri dapat memiliki nilai pasar triliunan rupiah, tetapi perusahaan baru belum tentu mampu mengambil bagian yang signifikan dari pasar tersebut. Sebaliknya, pasar yang secara nominal lebih kecil dapat menjadi sangat menarik jika memiliki pertumbuhan tinggi, purchasing power kuat, competition yang terkendali, dan customer yang memiliki willingness to pay tinggi.
Inilah alasan jasa pembuatan bisnis plan harus menempatkan market analysis sebagai salah satu fondasi utama dalam penyusunan strategi dan financial projection.
Market analysis yang baik harus menghubungkan:
Market Size → Demand → Customer → Purchasing Power → Willingness to Pay → Market Share → Revenue → Profitability
Jika salah satu mata rantai tersebut tidak realistis, proyeksi bisnis secara keseluruhan dapat menjadi bias.
Apa Itu Market Analysis dalam Business Plan?
Market analysis adalah proses sistematis untuk memahami karakteristik pasar yang menjadi target bisnis, termasuk ukuran pasar, pertumbuhan, struktur permintaan, customer profile, daya beli, kompetisi, pricing, dan potensi perusahaan memperoleh market share.
Dalam business plan, market analysis berfungsi untuk:
- Menentukan apakah pasar cukup menarik
- Mengidentifikasi target customer
- Mengukur potensi demand
- Memahami purchasing power
- Menentukan pricing strategy
- Mengestimasi market share
- Membentuk revenue projection
- Mengidentifikasi market risk
- Menentukan strategi masuk pasar
Dengan kata lain, market analysis menjawab:
“Apakah terdapat economic opportunity yang cukup besar untuk membangun bisnis yang sustainable?”
Market Size Bukan Sekadar Angka Besar
Salah satu kesalahan paling sering terjadi dalam business plan adalah menggunakan angka market size sebagai bukti bahwa sebuah bisnis pasti memiliki peluang.
Misalnya:
“Industri X bernilai Rp50 triliun per tahun.”
Angka tersebut memang menunjukkan bahwa terdapat aktivitas ekonomi yang besar.
Namun angka tersebut belum menjawab:
- Berapa bagian pasar yang relevan?
- Siapa customer target?
- Di wilayah mana customer berada?
- Berapa purchasing power mereka?
- Berapa harga produk?
- Berapa kompetitor?
- Berapa market share yang realistis?
- Berapa kapasitas perusahaan?
Karena itu, market size harus dipersempit menjadi market yang benar-benar dapat dilayani.
TAM, SAM, dan SOM
Salah satu kerangka yang dapat digunakan adalah TAM, SAM, dan SOM.
Total Addressable Market (TAM)
TAM menggambarkan keseluruhan potensi pasar apabila perusahaan secara teoritis mampu melayani seluruh customer yang relevan.
Misalnya industri makanan sehat memiliki nilai:
Rp20 triliun per tahun.
Angka tersebut dapat menjadi TAM.
Namun perusahaan tidak mungkin secara langsung menganggap Rp20 triliun sebagai revenue opportunity.
Serviceable Available Market (SAM)
SAM merupakan bagian dari TAM yang sesuai dengan:
- Produk
- Wilayah
- Target customer
- Distribution channel
- Price range
Misalnya dari Rp20 triliun, segmen yang sesuai dengan produk perusahaan hanya:
Rp5 triliun.
Maka SAM adalah Rp5 triliun.
Serviceable Obtainable Market (SOM)
SOM merupakan bagian pasar yang realistis dapat diperoleh perusahaan dengan mempertimbangkan:
- Kapasitas
- Marketing
- Distribution
- Competition
- Brand strength
- Capital
- Sales capability
Misalnya perusahaan memperkirakan SOM sebesar:
Rp100 miliar.
Maka Rp100 miliar merupakan angka yang jauh lebih relevan untuk digunakan dalam revenue planning.
Mengapa SOM Lebih Penting untuk Financial Projection?
Financial projection tidak dapat menggunakan seluruh market sebagai revenue.
Misalnya:
TAM = Rp50 triliun
SAM = Rp10 triliun
SOM = Rp200 miliar
Revenue projection seharusnya dibangun dari kemampuan perusahaan memperoleh bagian dari SOM tersebut.
Jika perusahaan menargetkan revenue Rp100 miliar, berarti perusahaan harus memperoleh:
50% dari SOM.
Angka tersebut harus diuji kembali.
Apakah perusahaan benar-benar memiliki kemampuan untuk memperoleh 50%?
Jika tidak, revenue projection harus disesuaikan.
Market Size Berdasarkan Value dan Volume
Market size dapat diukur berdasarkan:
Market Value
Total nilai transaksi dalam rupiah.
Market Volume
Jumlah unit, transaksi, customer, atau produk yang terjual.
Keduanya penting.
Misalnya:
Market value = Rp10 triliun
Market volume = 100 juta unit
Maka implied average price:
Rp10 triliun ÷ 100 juta unit = Rp100.000/unit
Data tersebut dapat digunakan untuk menguji apakah pricing perusahaan realistis.
Market Growth
Market size saat ini belum cukup.
Perusahaan juga perlu mengetahui:
Ke mana arah pasar tersebut?
Jika market tumbuh 2% per tahun, strategi ekspansi harus berbeda dengan market yang tumbuh 20% per tahun.
Market growth dapat dipengaruhi oleh:
- Population growth
- Income growth
- Urbanization
- Technology adoption
- Lifestyle changes
- Regulatory changes
- Consumer preferences
Pertumbuhan pasar dapat menciptakan tailwind bagi bisnis.
Namun market yang tumbuh cepat juga biasanya menarik lebih banyak kompetitor.
CAGR dan Interpretasinya
Pertumbuhan pasar sering dinyatakan dalam CAGR atau Compound Annual Growth Rate.
Misalnya market:
Tahun 1 = Rp10 triliun
Tahun 5 = Rp16 triliun
CAGR memberikan gambaran rata-rata pertumbuhan tahunan selama periode tersebut.
Namun CAGR harus digunakan secara hati-hati.
Pertumbuhan historis tidak otomatis berlanjut ke masa depan.
Business plan harus menguji:
Apa driver pertumbuhan tersebut?
Jika pertumbuhan berasal dari tren sementara, forecast jangka panjang perlu lebih konservatif.
Demand: Apakah Customer Benar-Benar Membutuhkan Produk?
Market size menunjukkan besarnya pasar.
Demand menunjukkan kemungkinan customer melakukan pembelian.
Ini merupakan perbedaan yang sangat penting.
Sebuah produk dapat berada dalam industri besar tetapi memiliki demand rendah pada segmen tertentu.
Misalnya:
Market teknologi = sangat besar.
Namun tidak berarti setiap customer membutuhkan setiap jenis teknologi.
Karena itu, analisis demand harus melihat:
- Problem
- Frequency
- Urgency
- Alternative
- Purchase trigger
- Willingness to pay
Need, Want, dan Effective Demand
Tidak semua kebutuhan menghasilkan transaksi.
Customer mungkin:
Need sesuatu.
Tetapi belum tentu:
Want untuk membelinya.
Dan belum tentu memiliki:
Ability to Pay.
Demand ekonomi yang benar-benar relevan adalah effective demand.
Secara sederhana:
Effective Demand = Desire + Ability to Pay + Willingness to Buy
Inilah yang perlu dicari dalam market analysis.
Purchasing Power
Purchasing power merupakan kemampuan customer untuk membeli barang atau jasa pada tingkat harga tertentu.
Untuk memahami purchasing power, business plan dapat mempertimbangkan:
- Income
- Disposable income
- Household expenditure
- Consumer spending
- Asset ownership
- Credit availability
- Cost of living
Dua wilayah dengan jumlah penduduk sama dapat memiliki potensi revenue yang sangat berbeda jika purchasing power-nya berbeda.
Population Besar Tidak Berarti Revenue Besar
Misalnya:
Wilayah A:
Population = 5 juta
Average income = Rp4 juta/bulan
Wilayah B:
Population = 2 juta
Average income = Rp10 juta/bulan
Untuk produk premium, Wilayah B belum tentu lebih kecil potensinya meskipun population-nya lebih rendah.
Karena itu:
Population ≠ Market Potential
Market potential harus mempertimbangkan purchasing power.
Disposable Income
Disposable income memberikan gambaran kemampuan rumah tangga setelah memperhitungkan kewajiban dan pengeluaran tertentu.
Produk discretionary seperti:
- Premium food
- Travel
- Entertainment
- Beauty
- Lifestyle
biasanya lebih sensitif terhadap disposable income dibanding produk kebutuhan dasar.
Ketika disposable income meningkat, demand terhadap beberapa kategori discretionary dapat meningkat.
Price Sensitivity
Purchasing power tidak berarti customer bersedia membayar harga berapa pun.
Customer dapat memiliki daya beli tinggi tetapi tetap price-sensitive.
Karena itu perlu dianalisis:
Willingness to Pay
dan
Price Elasticity
Misalnya:
Harga naik 10%.
Demand turun 5%.
Berbeda dengan kondisi:
Harga naik 10%.
Demand turun 30%.
Implikasi pricing terhadap revenue dan margin akan sangat berbeda.
Customer Segmentation
Market analysis yang objektif harus melakukan segmentasi.
Segmentasi dapat berdasarkan:
Demographic
- Age
- Gender
- Income
- Occupation
Geographic
- Province
- City
- Urban/rural
- Location
Psychographic
- Lifestyle
- Values
- Preference
Behavioral
- Purchase frequency
- Brand loyalty
- Usage
- Purchase trigger
Segmentasi membuat market size lebih realistis.
Mengapa Semua Orang Bukan Target Market?
Kesalahan umum dalam business plan adalah menyatakan:
“Target market kami adalah semua orang.”
Secara ekonomi, target market seperti ini hampir tidak berguna.
Perusahaan memiliki keterbatasan:
- Budget
- Capacity
- Distribution
- Brand
- Sales force
Karena itu, perusahaan perlu memilih customer segment dengan:
Highest attractiveness × Best strategic fit
Market Attractiveness
Sebuah segment dapat dinilai berdasarkan:
- Size
- Growth
- Purchasing power
- Competition
- Profitability
- Accessibility
- Retention potential
Misalnya:
SegmentSizeGrowthPurchasing PowerCompetitionA | High | Low | Medium | High
B | Medium | High | High | Medium
C | Low | High | High | Low
Segment B mungkin menjadi prioritas meskipun market size-nya bukan yang terbesar.
Revenue Potential
Revenue potential harus dihitung berdasarkan operating drivers.
Formula sederhana:
Revenue = Number of Customers × Average Revenue per Customer
Misalnya:
Target customer = 10.000
Average revenue/customer = Rp1 juta
Potensi revenue:
Rp10 miliar
Namun angka tersebut harus diuji dengan:
- Customer acquisition capacity
- Market size
- Sales capacity
- Retention
- Purchase frequency
Revenue Berdasarkan Purchase Frequency
Untuk bisnis dengan repeat purchase:
Revenue = Customers × Purchase Frequency × Average Transaction Value
Misalnya:
5.000 customers
Purchase frequency = 4 kali/tahun
Average transaction = Rp250.000
Revenue:
5.000 × 4 × Rp250.000 = Rp5 miliar
Model seperti ini lebih informatif karena menunjukkan driver revenue.
Bottom-Up Market Sizing
Bottom-up market sizing menghitung pasar dari unit ekonomi yang lebih konkret.
Misalnya:
Jumlah target customer = 100.000
Persentase customer yang membeli kategori produk = 30%
Potential buyers = 30.000
Average annual spending = Rp2 juta
Market potential:
30.000 × Rp2 juta = Rp60 miliar
Pendekatan ini sering lebih berguna daripada sekadar mengutip angka industri.
Top-Down vs Bottom-Up
Top-Down
Dimulai dari:
Total industry → segment → target share.
Bottom-Up
Dimulai dari:
Customer → transaction → price → frequency → revenue.
Business plan yang kuat dapat menggunakan keduanya.
Jika hasilnya berbeda jauh, perbedaan tersebut harus dianalisis.
Market Share
Market share menunjukkan proporsi penjualan perusahaan dibandingkan total pasar.
Misalnya:
Market = Rp100 miliar
Company revenue = Rp5 miliar
Market share:
5%
Namun market share tidak boleh hanya menjadi target.
Perusahaan harus memiliki strategi untuk mencapainya.
Bagaimana Market Share Dapat Dicapai?
Market share dapat berasal dari:
- New customer acquisition
- Competitor switching
- Geographic expansion
- Product differentiation
- Pricing advantage
- Distribution advantage
Misalnya perusahaan ingin mencapai market share 10%.
Business plan harus menjelaskan:
Dari mana tambahan 5% tersebut berasal?
Jika jawabannya tidak jelas, target market share mungkin terlalu optimistis.
Competitor Analysis
Market analysis harus mempertimbangkan kompetitor.
Beberapa aspek yang perlu dibandingkan:
- Market share
- Price
- Product
- Distribution
- Brand
- Customer service
- Technology
- Cost structure
Kompetisi dapat memengaruhi potensi revenue.
Jika kompetitor sangat kuat, perusahaan mungkin membutuhkan:
- Marketing budget lebih besar
- Pricing lebih agresif
- Differentiation lebih kuat
Profit Pool Lebih Penting daripada Market Size
Market size besar belum tentu berarti profit besar.
Misalnya:
Market A = Rp100 triliun
Margin rata-rata = 3%
Profit pool = Rp3 triliun
Market B = Rp20 triliun
Margin rata-rata = 20%
Profit pool = Rp4 triliun
Market B memiliki market size lebih kecil tetapi profit pool lebih besar.
Ini merupakan perspektif penting dalam strategic market analysis.
Market Attractiveness dan Profit Pool
Karena itu, analisis pasar sebaiknya mempertimbangkan:
Market Size × Growth × Margin × Accessibility
Bukan hanya:
Market Size
Dengan pendekatan ini, perusahaan dapat memilih pasar yang memiliki potensi economic value lebih tinggi.
Data Primer dan Data Sekunder
Market analysis dapat menggunakan dua sumber utama.
Data Sekunder
Contohnya:
- Industry reports
- Government statistics
- Financial reports
- Trade publications
- Economic databases
Data sekunder berguna untuk memahami market secara makro.
Data Primer
Contohnya:
- Survey
- Interview
- Focus group
- Observation
- Customer testing
Data primer dapat membantu memahami customer secara lebih spesifik.
Mengapa Market Research Penting?
Data sekunder mungkin mengatakan:
Industri tumbuh 15%.
Tetapi data primer dapat menunjukkan:
Customer target hanya bersedia membayar pada harga tertentu.
Kedua informasi tersebut saling melengkapi.
Market growth menunjukkan macro opportunity.
Customer research menunjukkan micro feasibility.
Survey Tidak Sama dengan Demand Aktual
Ini juga penting.
Jika 70% responden mengatakan:
“Saya tertarik membeli.”
belum berarti 70% akan benar-benar membeli.
Ada perbedaan antara:
Stated Preference
dan
Revealed Preference
Karena itu, semakin besar investasi yang akan dilakukan, semakin penting melakukan validation melalui:
- Pilot
- Pre-order
- Trial
- Actual transaction
- Test market
Willingness to Pay Testing
Perusahaan dapat menggunakan beberapa pendekatan untuk menguji harga.
Misalnya menanyakan:
- Harga berapa yang dianggap murah?
- Harga berapa yang dianggap wajar?
- Harga berapa yang dianggap mahal?
- Harga berapa yang terlalu mahal?
Data tersebut dapat membantu menentukan price range.
Namun hasil survey sebaiknya dibandingkan dengan actual purchase behavior.
Market Analysis dan Financial Projection
Market analysis harus menjadi input financial projection.
Misalnya market analysis menemukan:
Potential customer = 50.000
Expected conversion = 5%
Customer = 2.500
Average annual spending = Rp2 juta
Revenue potential:
Rp5 miliar
Kemudian financial model dapat menggunakan Rp5 miliar sebagai salah satu reference point.
Ini jauh lebih defensible daripada:
“Revenue tahun pertama diproyeksikan Rp10 miliar.”
tanpa driver yang jelas.
Scenario-Based Revenue Projection
Karena market selalu mengandung ketidakpastian, revenue sebaiknya dibuat dalam beberapa skenario.
Conservative
Conversion = 3%
Customer = 1.500
Revenue = Rp3 miliar
Base
Conversion = 5%
Customer = 2.500
Revenue = Rp5 miliar
Upside
Conversion = 8%
Customer = 4.000
Revenue = Rp8 miliar
Dengan demikian, manajemen dapat memahami range potential revenue.
Sensitivity Analysis
Tidak hanya conversion yang perlu diuji.
Misalnya:
VariabelBaseDownsideUpsideCustomer | 2.500 | 1.800 | 3.500
Price | Rp2 Jt | Rp1,8 Jt | Rp2,2 Jt
Frequency | 1x | 0,8x | 1,2x
Revenue | Rp5 M | Rp2,59 M | Rp9,24 M
Dari sini dapat terlihat bahwa perubahan customer dan frequency dapat memberikan dampak besar terhadap revenue.
Market Risk
Market analysis juga harus mengidentifikasi risiko.
Beberapa risiko:
Demand Risk
Demand ternyata lebih rendah dari forecast.
Price Risk
Customer tidak menerima harga yang direncanakan.
Competition Risk
Kompetitor masuk dengan agresif.
Substitution Risk
Produk alternatif menjadi lebih menarik.
Economic Risk
Purchasing power menurun.
Regulatory Risk
Regulasi mengubah market structure.
Business plan yang baik harus memiliki mitigation strategy.
Market Saturation
Pasar yang besar dapat menjadi tidak menarik jika sudah mendekati saturation.
Indikator yang dapat diperhatikan:
- Low market growth
- High penetration
- Strong incumbent
- Price competition
- Low customer switching
Dalam pasar seperti ini, perusahaan membutuhkan differentiation yang lebih kuat.
Market Gap
Sebaliknya, market analysis dapat menemukan market gap.
Misalnya:
Customer membutuhkan produk premium.
Produk yang tersedia:
- Murah tetapi kualitas rendah
- Premium tetapi sangat mahal
Terdapat kemungkinan market gap:
Mid-premium segment
Market gap dapat menjadi dasar value proposition.
Blue Ocean Bukan Berarti Tanpa Kompetitor
Konsep market gap sering disalahartikan.
Tidak adanya kompetitor bukan otomatis berarti market opportunity.
Bisa jadi:
Tidak ada kompetitor karena tidak ada demand.
Karena itu, market gap harus tetap diuji melalui:
Customer Need + Willingness to Pay + Economic Viability
Market Entry Strategy
Setelah market attractiveness diketahui, perusahaan dapat menentukan strategi masuk.
Pilihan:
- Direct entry
- Partnership
- Distributor
- Franchise
- Marketplace
- Acquisition
- Pilot project
Strategi entry memengaruhi:
- Initial capital
- Speed
- Control
- Margin
- Risk
Geographic Market Prioritization
Jika perusahaan ingin ekspansi ke beberapa kota, tidak semua kota harus dimasuki sekaligus.
Kota dapat diberi skor berdasarkan:
- Population
- Income
- Demand
- Competition
- Rent
- Logistics
- Growth
Kemudian dibuat ranking.
Contoh:
KotaDemandPurchasing PowerCompetitionScoreA | Tinggi | Tinggi | Sedang | 8,5
B | Tinggi | Sedang | Tinggi | 7,0
C | Sedang | Tinggi | Rendah | 8,0
Kota A menjadi prioritas pertama.
Market Analysis sebagai Dasar Strategi
Market analysis pada akhirnya bukan hanya menjawab:
“Seberapa besar pasar?”
Tetapi:
“Di mana perusahaan seharusnya bermain, customer mana yang harus ditargetkan, value apa yang harus ditawarkan, berapa harga yang dapat diterima, dan berapa revenue yang realistis dapat diperoleh?”
Pertanyaan tersebut kemudian menjadi dasar:
- Product strategy
- Pricing strategy
- Marketing strategy
- Distribution strategy
- Sales strategy
- Investment strategy
Peran Jasa Bisnis Plan dalam Market Analysis
Jasa bisnis plan yang profesional harus mampu menerjemahkan market data menjadi business implication.
Bukan hanya:
Market size Rp20 triliun.
Tetapi:
Market yang relevan sebesar Rp5 triliun, target segment memiliki purchasing power tertentu, expected penetration realistis sebesar X%, sehingga revenue potential diperkirakan berada dalam range tertentu.
Dengan demikian, market analysis menjadi dasar keputusan.
Peran Jasa Pembuatan Bisnis Plan
Jasa pembuatan bisnis plan dapat membantu mengintegrasikan:
Market Data
→ Customer Analysis
→ Demand Estimation
→ Purchasing Power
→ Competitive Analysis
→ Market Share
→ Revenue Projection
→ Financial Feasibility
Rangkaian tersebut penting agar financial projection tidak berdiri sendiri.
FAQ Market Analysis dalam Business Plan
Apa tujuan market analysis dalam business plan?
Market analysis bertujuan mengetahui apakah terdapat pasar yang cukup menarik dan dapat dilayani perusahaan secara profitable.
Apa perbedaan market size dan market potential?
Market size menunjukkan nilai atau volume pasar secara keseluruhan, sedangkan market potential mempertimbangkan bagian pasar yang secara realistis dapat dilayani dan dimenangkan perusahaan.
Mengapa purchasing power penting?
Karena jumlah calon customer tidak otomatis menunjukkan kemampuan membeli. Purchasing power membantu menentukan apakah target customer mampu membeli produk pada tingkat harga tertentu.
Apa itu TAM, SAM, dan SOM?
TAM adalah keseluruhan potensi pasar, SAM adalah bagian pasar yang dapat dilayani berdasarkan karakteristik bisnis, sedangkan SOM adalah bagian pasar yang secara realistis dapat diperoleh perusahaan.
Bagaimana menghitung potensi revenue?
Salah satu pendekatan sederhana adalah:
Revenue = Number of Customers × Purchase Frequency × Average Transaction Value
Namun hasilnya perlu dibandingkan dengan market size, kapasitas, kompetisi, dan kemampuan acquisition perusahaan.
Apakah market size besar berarti bisnis pasti menarik?
Tidak. Profitability, competition, purchasing power, growth, accessibility, dan capital requirement juga harus dipertimbangkan.
Mengapa market research dibutuhkan dalam business plan?
Market research membantu memvalidasi demand, customer needs, pricing, purchasing behavior, dan competitive landscape sehingga asumsi dalam business plan menjadi lebih objektif.
Apakah survey customer cukup untuk membuktikan demand?
Tidak selalu. Stated preference tidak selalu sama dengan actual purchase behavior. Untuk investasi yang lebih besar, survey sebaiknya dilengkapi dengan pilot, trial, pre-order, atau actual transaction data.
Kapan perusahaan membutuhkan jasa bisnis plan?
Jasa bisnis plan dapat digunakan ketika perusahaan ingin memulai bisnis, melakukan ekspansi, membuka cabang, mencari pendanaan, mengembangkan produk, atau mengevaluasi peluang pasar baru.
Apa manfaat jasa pembuatan bisnis plan?
Jasa pembuatan bisnis plan membantu menyusun market analysis, customer analysis, competitor analysis, revenue projection, financial model, dan risk analysis secara terintegrasi sehingga keputusan bisnis memiliki dasar yang lebih kuat.
Market analysis merupakan salah satu fondasi paling penting dalam business plan karena menentukan apakah sebuah peluang pasar benar-benar dapat diterjemahkan menjadi revenue dan economic value.
Pasar yang besar belum tentu menarik.
Populasi yang besar belum tentu menghasilkan purchasing power yang tinggi.
Demand yang tinggi belum tentu menghasilkan willingness to pay.
Willingness to pay yang tinggi belum tentu menghasilkan profit jika competition dan cost structure terlalu berat.
Karena itu, market analysis harus melihat bisnis secara menyeluruh:
Market Size
→ Market Growth
→ Customer Demand
→ Purchasing Power
→ Willingness to Pay
→ Competition
→ Market Share
→ Revenue Potential
→ Profitability
Dengan pendekatan tersebut, perusahaan dapat menghindari salah satu kesalahan terbesar dalam business planning: mengubah angka market size yang besar menjadi proyeksi revenue tanpa membuktikan mekanisme bagaimana revenue tersebut dapat diperoleh.
Inilah nilai strategis dari jasa bisnis plan dan jasa pembuatan bisnis plan yang dilakukan secara berbasis data.
Business plan yang kuat bukan yang mengatakan:
“Pasarnya sangat besar.”
Tetapi yang mampu menjelaskan secara objektif:
“Pasarnya sebesar ini, customer yang relevan adalah kelompok ini, purchasing power-nya berada pada level tersebut, demand dapat diestimasi melalui driver tertentu, perusahaan memiliki kemampuan memperoleh market share tertentu, sehingga revenue potential berada dalam range yang dapat dipertanggungjawabkan.”
Pada akhirnya, market analysis bukan sekadar aktivitas menghitung pasar. Market analysis adalah proses mengukur seberapa besar peluang ekonomi yang benar-benar dapat dikonversi menjadi bisnis yang profitable dan sustainable.